Sabar Menerima Sakit
Sakit bagi orang beriman dapat
menggugurkan dosa, maka kuncinya adalah sabar
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Rifa'i
Tak selamanya penyakit harus
disesali. Sebab, kehadirannya justru kerap kali mendatangkan maslahat. Bukan
maslahat dunia, tapi maslahat akhirat.
Kisah Nabi Ayub jelas memberikan
pelajaran buat kita. Bertahun-tahun ia bertarung melawan penyakitnya. Tetapi,
beliau tetap sabar. Tak ada keluh kesah meski orang-orang terdekatnya menjauh
satu persatu.
Lain lagi dengan cucu Rasulullah
SAW, Ali Zainal Abidin. Ia terkadang kebingungan, manakah yang harus disyukuri
antara sehat dan sakit. Baginya, sehat dan sakit adalah
kenikmatan. Saat sehat, ia bisa menikmati rezeki Allah SWT dan leluasa
melaksanakan ketaatan. Ketika sakit, dosa-dosanya banyak yang terhapus dan
otomatis hatinya menjadi lebih suci.
Begitulah para salafusshalih
menghadapi penyakit.
Jika Allah SWT berkehendak, maka tak
ada kekuatan yang bisa menghalanginya. Manusia hanya dituntut ikhtiar. Adapun
hasilnya tetap menunggu ketentuan Allah SWT. Keluh kesah sama sekali tak
mendatangkan manfaat, sebaliknya justru mendatangkan dosa dan kesedihan.
Penyakit haruslah dihadapi dengan kesabaran dan keimanan. ''Dan Kami memberikan
cobaan kepada kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian).''
(QS Al-Anbiya: 35).
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat
tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT menguji manusia terkadang dengan musibah,
di waktu lain dengan kenikmatan hingga bisa diketahui siapa yang bersyukur dan
siapa yang kufur, siapa yang sabar dan siapa yang putus asa.
"Sesungguhnya besarnya balasan
disertai dengan besarnya musibah. Sesungguhnya Allah bila mencintai suatu kaum,
Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang ridha, dia akan memperoleh keridhaan
dan siapa yang murka, ia akan memperoleh kemurkaan." (HR at-Tirmidzi).
Manfaat penyakit lainnya adalah
dapat menyucikan dosa, menutupi kesalahan, dan mengangkat derajat.
"Tidaklah menimpa seorang
mukmin satu kepayahan pun, tidak pula sakit yang terus-menerus, tidak pula
kecemasan, kesedihan, gangguan, dan tidak pula kesusahan sampai-sampai duri
yang menusuknya, kecuali dengan semua itu Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya."
(HR Bukhari dan Muslim).
Allah SWT juga akan mencatat bagi si
sakit, pahala amalan sunah yang biasa dilakukan ketika sehat, sekalipun ketika
sakit tak dikerjakannya. "Apabila seorang hamba sakit atau safar
(bepergian jauh), maka dicatat untuknya amalan semisal apa yang diamalkannya
saat tidak safar dan saat sehat" (HR. Bukhari).
Penyakit yang menimpa seseorang juga
merupakan tanda kecintaan Allah SWT kepada hamba bila dijalani dengan sabar dan
ridha. "Siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan
menimpakan musibah kepadanya." (HR Bukhari).
Semoga kita termasuk yang bisa
mengambil
hikmah suatu penyakit.